Menunggu Hujan
“Kau janji?,” tanya Christabel.
Bryan meyakinkan Christabel, “Ya,”
Bryan memeluk Christabel. Dalam hati dia merasa sangat tenang jika berada di samping Christabel. Begitu juga Christabel yang merasa sangat nyaman dipelukan Bryan.
Bryan lalu melepaskan pelukannya dari Christabel dan memandang gadis itu. Akhirnya Bryan pergi meninggalkan Christabel untuk pulang ke Jepang. Christabel tidak dapat mencegah Bryan pergi, karena Bryan pergi untuk kembali, dia yakin dan sangat yakin.
^^^
Christabel sedang menunggu hujan reda di café tempat dia bertemu dengan Bryan sore itu. Dia berharap akan melihat pelangi kembali. Christabel melayangkan matanya ke jendela dan melihat beberapa anak berkeliaran di trotoar jalanan, menari-nari diiringi rintik hujan. Dari pojok ruangan, Christabel tersenyum.
“Andai Bryan ada di sini,” katanya dalam hati.
Christabel kembali memandang hujan yang tak mau berhenti mengejeknya. Alunan musik dari dalam café membuatnya sedikit terhibur. My Heart Will Go On, lagu yang sedang dimainkan oleh pianis café. Christabel tidak menyadari air matanya menetes.
Christabel kembali memandang ke luar jendela. Seorang lelaki lewat membawa rangkaian bunga mawar putih di tangan kirinya. Jalannya tergesa-gesa, tangan kanannya memegang topi untuk menutupi wajahnya dari rintik hujan. Dia menabrak penjual koran yang sedang berteduh. Salah satu mawar jatuh dari rangkaiannya. Mawar itu kini tergeletak di trotoar. Ditendang-tendang orang yang berlalu lalang. Tapi mawar itu tetap utuh. Walau mulai terlihat sedikit layu.
Christabel melihat ke ujung jalan, ada seorang gadis kecil berlari. Dia memungut mawar itu. Sempat dia melihat Christabel, dan tersenyum kepadanya. Christabel membalas senyum gadis kecil itu lalu menyeka air matanya.
Lewat setengah jam, Christabel keluar dari café itu dan berjalan dengan agak sempoyongan. Dia merasa kepalanya pusing. Hujan memang sudah reda, tapi Christabel masih merasakan rintik hujan mengenai pipinya. Dia merasakan ada yang sedang berlari ke arahnya, Christabel lalu menghantikan langkahnya.
Christabel menengok ke belakang, seorang gadis kecil dengan mawar ditangannya sedang berlari.
Ketika gadis itu sudah sampai di depan Christabel, dia tersenyum dan berkata, “Bunga mawar ini untuk kakak,”
Christabel merasa heran. Dia akhirnya tersenyum dan mengaluarkan tangan dari saku jaketnya untuk menerima bunga mawar itu.
“Kakak yang sedang menanti,” katanya lagi dengan semangat.
Christabel mengelus-elus kepala gadis kecil itu. Dia girang. Christabel hanya tersenyum dan menurunkan tangannya.
Gadis kecil itu masih berusaha mengatur napasnya dan berkata, “Rose. Namaku Rose,”
Christabel memandang mata gadis kecil itu. Matanya dalam dan tulus, begitulah menurutnya. Sesaat mereka hanya terdiam sampai Ibu si gadis kecil itu memangggilnya. Lalu dia berlari meninggalkan Christabel.
Christabel terdiam sejenak dan kembali berjalan sambil memandangi bunga mawar yang kini ada ditangannya.
“Rose dan bungar mawar putih yang layu,” gumamnya.
Christabel berjalan ke pemberhentian metro.
Dalam hati dia kembali berharap, “Semoga kau tepati janjimu untuk kembali ke Paris, Bryan,” dan angin berhembus merdu membawa kelopak mawar yang ada digenggaman tangan Christabel.
^^^
Christabel masih setia menunggu di bangku taman dekat Arc de Triomphe. Penantiannya terhadap kedatangan Bryan dirasa sudah satu tahun, padahal baru bulan lalu Bryan meninggalkan Paris. Dua jam Christabel hanya duduk di bangku itu dan membaca kembali buku Paris Je T’aime yang dihadiahkan Bryan untuknya.
Langit memang tidak mendung. Tapi Christabal merasakan hujan membasahi tubuhnya. Ketika dia berniat pergi dari situ sebelum hujan bertambah deras, Christabel tidak merasakan rintik hujan mengenai tubuhnya lagi, padahal di sekitar hujan malah bertambah deras.
Christabel menengok ke atas untuk memastikan, dan saat itulah dia sadar ada yang memayunginya dari atas dengan jaketnya. Senyum tersungging dari bibirnya ketika mengetahui siapa orang yang telah memayunginya dengan hujan itu.
Christabel terlonjak dan memeluk orang itu.
“Kuyakin kau pasti akan kembali,” kata Christabel.
“Dan aku tidak akan mengingkarinya,”
“Jangan pergi lagi, Bryan,” Christabel mengeratkan perlukannya.
Bryan dan Christabel tidak mau beranjak dari situ walau hujan membasahi diri mereka.
“Kenapa kau malah mengajakku bermain hujan, Christabel?,” Bryan tersenyum.
“Yang penting hujan itu sudah tidak lagi menggenangi hatiku tanpa dirimu,”.
Mereka tersenyum bersama di bangku itu, di taman dekat Arc de Triomphe, di Paris.