Senin, 06 September 2010

storia

Princesse Andreia Astre

Gadis cilik berumur sembilan tahun itu berlari-lari mengejar kupu-kupu di halaman rumahnya. Kakaknya yang umurnya hanya beda satu tahun dengannya, sedang duduk di teras dengan boneka barbienya. Kegembiraan dan kesenangan itu dalam sekejap hilang tak tersisa. Bunyi nyaring telepon sore itu membuat semua orang tak kuasa menahan segala rasa kepedihannya. Bak tamparan yang begitu keras, gadis kecil dan kakaknya itu menangis tersedu-sedu dipangkuan neneknya.

Mereka tak tahu kemana mereka harus berlari dan meminta pertolongan. Bunda mereka yang selama ini selalu berada di samping mereka, kini telah pergi untuk selama-lamanya. Beberapa bulan terakhir Ibunda mereka menjadi penghuni setia salah satu kamar rumah sakit. Kanker rahim yang dideritanya sudah memasuki stadium akhir. Dan akhirnya dia pergi untuk selama-lamanya sore ini.

“Andreia, Aleia, gadis-gadis kecilku…”, suara lirih yang juga tak bisa memendam rasa kesedihannya mendekati kursi goyang.

Kedua anaknya berlari kehadapannya dan memeluknya erat. Air mata yang sebenarnya tak ingin diperlihatkan kepada kedua anaknya menetes deras. Orang-orang disekelilingnya juga tak bisa menahan air mata mereka.

***

Dia sedang duduk di bebatuan tepat di samping mobil hitamnya. Mengamati seseorang di seberang yang sedang asik bercerita dengan temannya. Ini memang bukan pertama kali mereka bertemu setelah tiga tahun berpisah. Namun berada satu sekolah dengannya lagi adalah sesuatu yang ditunggu-tunggunya selama ini.

Tak mau pikir panjang, Andreia-lah yang selama ini dinantinya sudah ada di depan mata. Sekarang tinggal bagaimana dia mendekati lalu berusaha mendapatkan gadis itu.

Mudah saja bagiku untuk mendapatkan dia. Karena sekarang aku sudah berbeda dari yang dulu. Atau mungkin bisa dikatakan aku berubah untukknya. Andreia, cinta pertamaku yang akan menjadi cinta matiku…

Bahkan dia tak tau seberapa jauh dia menginginkan Andreia. Yang dipikirkannya hanyalah bagaimana Andreia jatuh kepelukannya dan bisa berada di sampingnya. Tanpa berpikir bahwa akan ada orang yang tersakiti karena ambisinya ini.

***

Andreia memang cantik. Andreia memang pintar. Andreia, she’s so cutie. Yes, It’s right. Tapi pantaskah dia sebagai orang yang tidak terlalu mengenal Andreia dewasa ini, berkata bahwa tak sepenuhnya Andreia berhak atas semua pujian itu?

Atau mungkin dia hanya cemburu kepada Andreia atas segala yang dimiliki Andreia? Dia belum tahu jawabannya.

Dia ingin berusaha menjadi teman dekat Andreia lagi seperti mereka masih kanak-kanak dulu. Namun entah Andreia yang berubah atau memang ada sebuah perasaan yang mengganjal hatinya, sehingga pertemanan mereka sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Semua itu dirasa benar-benar ganjal, ketika dia mengucilkan Andreia, dia merasa tak tega. Ketika dia tak ingin mengacuhkan semua itu, dia merasa harus mengacuhkannya.

Karena mungkin dia merasa tak rela orang yang dicintainya ternyata menjadi pengagum Andreia, Elan.

***

Malam ini mereka pulang bersama. Andreia dan Elan jalan bersebelahan, Aluna ada tepat di belakang mereka. Sungguh baru kali ini setelah kesekian kalinya Aluna melihat Andreia dan Elan jalan berdua, Aluna merasakan hatinya serasa ditusuk-tusuk.

Hujan rintik-rintik membuatnya semakin merasa sakit. Dia tak punya tempat untuk berlindung. Sedangkan Andreia dengan tenang berlindung di bawah payungan jaket Elan. Sungguh Aluna benar-benar merasakan sesuatu yang menyiksa. Elan memang tak tahu kalau Aluna mencintainya. Aluna merasa dia bersalah mencintai Elan, karena Elan terlalu jauh untuk dirinya.

Andreia, gadis yang sekarang telah punya segala. Seorang putri bagi Elan yang harus disanjung dan dijaganya. Bahkan Elan sudah menganggap Andreia sebagai cinta matinya. Namun Aluna merasa ganjal dengan perasaan Elan kepada Andreia. Aluna takut kalau Andreia tidak mencintai Elan sebagaimana Elan mencintai Andreia. Karena di pandangan Aluna, Andreia tak pernah menganggap serius ucapan Elan yang diperuntukkan kepadanya. Namun apa hak Aluna untuk melarang Elan mencintai Andreia?

Aluna bukan siapa-siapa. Aluna hanya teman Elan, bahkan bukan teman dekat. Elan bahkan tak mengacuhkan keberadaan Aluna.

Lalu Aluna-kah yang salah jika Elan tak pernah melihatnya? Atau salah Elan yang tak pernah peka dengan keadaan di sekitarnya? Aluna juga tak bisa menyalahkan Andreia karena perasaan Elan kepadanya.

Mungkin memang takdir Andreia mendapatkan semua yang diinginkannya. Aluna hanya bisa berbisik kepada dirinya sendiri, biarkanlah Andreia menjadi seseorang yang punya segalanya. Mungkin memang doa ibunya untuk Andreia.

“My Princesse, Andreia Azura Astre…”, bahkan Elan juga membisikkan hal itu di telinga Aluna sebelum di membukakan pintu mobil untuk Andreia.

Mobil hitam itupun melaju pergi meninggalkan Aluna sendiri di tepi jalan. Hujan rintik telah usai, namun mulai menghujani hati Aluna. Ditemani bintang malam, Aluna menangis sendiri di jalan ini.