Sabtu, 26 November 2011

Simply Complicated


Saturday, November 26th 2011


Do you know?
Hari ini kau sudah memanggil namaku berkali-kali, bahkan memanggil namaku lengkap sekali..
Aku selalu suka, karena itu berarti kau juga sudah mencoba biasa.
Tapi apakah aku juga bisa?
Mungkin terlihat egois, tapi aku belum bisa...
Masih ada rasa yang tidak bisa dijelaskan, yang selalu menyingkapku dan membuatku terjebak..
Mungkin mudah saja bagimu menganggap semua ini biasa, tapi bagiku berperang melawan perasaan sendiri adalah hal yang paling sulit sekaligus sakit..


Aku masih menghargai waktu yang sedang terjadi..
Berharap suatu saat kau lah jawaban dari segala yang kutakutkan.
Tapi hari ini kau buat aku sadar, bahwa ini semua sebenarnya palsu..
Aku menyambutnya terlalu baik, tapi yang sebenarnya terjadi bahkan belum pernah menjadi baik..
Kau terus saja anggap ini bercanda, sedangkan aku, sudah kubilang.. Aku harus berperang menahan perasaan ini..


Jadi...
Aku takut...
Aku tak tau apa yang ada dipikiranmu, bagaimana diriku dimatamu
Itu akan selalu jadi pertanyaan besar dalam benakku
Yang aku takutkan adalah..
Ketika kau bersikap seperti ini tapi kau berpikiran lebih buruk daripada yang kubayangkan sebelumnya...
Tolong, aku hanya minta padamu jangan pernah bohongi perasaanmu sendiri..
Lebih baik kau tidak usah beri harapan ketika kau tidak tahu sebagaimana sulitnya berperang dengan perasaan...
Supaya aku bisa dengan mudah melangkah untuk melupakanmu..
Supaya aku tidak lagi berjalan maju mundur karena sikapmu kepadaku
Lebih baik kau diam saja dan berusaha berjalan lah menjauh dariku..
Karena terlalu sakit untuk tahu bahwa semua yang kau perbuat itu palsu..

Minggu, 20 November 2011

Default file



Jangan pernah pergi, aku menyayangimu..
Dia mencengkeram erat kursi taman yang ada di sampingnya sambil menahan isakannya sendiri. Kata-kata yang begitu membuat hatinya sesak dan membuatnya hanya terdiam sambil menangis. Kata-kata itu yang benar-benar ingin dikatakannya. Kata-kata yang sudah mencapai kerongkongan tapi ditahannya untuk dikeluarkan.
Dia tahu, kata-kata itu mungkin akan menyakiti hatinya sendiri. Dia juga tahu kata-kata itu tidak pantas diucapkannya kepada orang sudah seharusnya bahagia tanpa dirinya. Perih, hanya itu yang kini ia rasakan.
“Jangan pernah pergi, aku menyayangimu”
Diluar kesadarannya sendiri, kata-kata itu keluar tanpa bisa ditahan. Dia akhirnya jatuh terduduk. Merasakan langkah kaki Dira berhenti. Dan kini dia bisa merasakan, ketika sesuatu yang benar-benar ingin kita ucapkan dari dalam lubuk hati tertahan, tanpa sadar jika itu sudah membuatmu merasa kesakitan kata-kata itu akan terlontar begitu saja tanpa kita sadari.
Mungkin saat ini dia hanya bisa menangis terisak-isak. Ada kelegaan yang sesaat membuat hatinya sejuk, namun disertai rasa menyesal jika semua ini hanya bisa disebut kesalahan. Entah apa yang dipikirkannya, dia menangis semakin keras disertai rintik hujan yang turun tiba-tiba.
Tapi dirasakannya sentuhan hangat dari balik tubuhnya. Menyingkap tubuhnya dengan satu gerakan cepat yang membuatnya semakin terisak. Perlahan dia mulai menyadari, Dira memeluknya erat. Dia merasakan hembusan napas Dira di celah-celah rambutnya.
Dia benar-benar berharap waktu bisa berhenti disaat-saat seperti ini. Jika ini hanya sebuah mimpi, lebih baik dia tidak ingin terbangun. Hanya waktu ini saja. Dia tidak ingin melihat masa depan, dia tidak ingin mengulang masa lalu. Yang dia inginkan hanya waktu ini saja. Waktu paling indah.