Sebelum dia memejamkan mata untuk pergi tidur malam ini, dia berdoa sambil memandang bintang yang paling terang dilangit sambil mengucap:
“Tuhan, aku punya satu harapan. Bisakah aku bertemu dengannya? Dan memberi tahu semua kebenaran isi hatiku saat ini? Aku hanya ingin melihatnya tersenyum… Dan saat itulah aku bisa melepasnya, benar-benar melepasnya tanpa beban sekalipun”.
Air mata pun menetes satu persatu dengan mulus dari matanya yang bulat.
Ya, kali ini lebih ringan. Dia bisa meninggalkan sejenak serpihan yang sudah terlanjur berantakan bersama heningnya malam.
Rasa kecewa yang pernah menyesakkan dadanya perlahan menguap bersama rasa sedih atas kehilangan. Menunggu seseorang yang tidak pasti kapan dia datang sama saja menggoreskan luka diurat nadi. Susah payah dia berusaha untuk percaya bahwa semuanya telah menjadi sia-sia, tapi harapan bahwa harusnya cinta itu datang sebenarnya tak pernah sekalipun menghilang dari dasar lubuk hatinya.
Mungkin dia akan terus begini, menunggu sampai benar-benar merasa jemu. Menunggu sampai kapanpun waktu yang ditentukan oleh sesatu bernama takdir, mempertemukan mereka pada akhir yang bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar