Hope that in a new year I'll be a better person
Hope that we have a long life...
Banzaaii 2012 ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~
Sebelum dia memejamkan mata untuk pergi tidur malam ini, dia berdoa sambil memandang bintang yang paling terang dilangit sambil mengucap:
“Tuhan, aku punya satu harapan. Bisakah aku bertemu dengannya? Dan memberi tahu semua kebenaran isi hatiku saat ini? Aku hanya ingin melihatnya tersenyum… Dan saat itulah aku bisa melepasnya, benar-benar melepasnya tanpa beban sekalipun”.
Air mata pun menetes satu persatu dengan mulus dari matanya yang bulat.
Ya, kali ini lebih ringan. Dia bisa meninggalkan sejenak serpihan yang sudah terlanjur berantakan bersama heningnya malam.
Rasa kecewa yang pernah menyesakkan dadanya perlahan menguap bersama rasa sedih atas kehilangan. Menunggu seseorang yang tidak pasti kapan dia datang sama saja menggoreskan luka diurat nadi. Susah payah dia berusaha untuk percaya bahwa semuanya telah menjadi sia-sia, tapi harapan bahwa harusnya cinta itu datang sebenarnya tak pernah sekalipun menghilang dari dasar lubuk hatinya.
Mungkin dia akan terus begini, menunggu sampai benar-benar merasa jemu. Menunggu sampai kapanpun waktu yang ditentukan oleh sesatu bernama takdir, mempertemukan mereka pada akhir yang bahagia.
It's about what you feel
It's about your life
It's about when you down
When you need someone to hope
When you need someone to help
When you need someone come to your side
It's about hurt
It's about happy
Because it's all about yours
and it's all about ours
It's about when you feel down in the life and someone come into your side
Give you a hoping and helping
Feel the hurt and happiness together, take and give each others
Because this world is ours
...
Aku hanya tersenyum dan segera memberesi kotak P3K.
“Abel,” suara yang lembut dan penuh kasih sayang memanggil namaku.
Aku menoleh dan segera berlari ke arahnya.
“Setengah jam lagi, Papa dan Mamamu datang. Kamu harus bersiap,” kata nenek.
Lili dan Kara yang memandang ke arahku meminta penjelasan.
“Lili, Mama sama Papa mau dateng!,” teriakku ke arah mereka.
Lili dan Kara sempat berpandangaan. Kara lalu berusaha berdiri dan mengambil bolanya. Aku masuk ke rumah dan sempat melihat Kara berjalan ke pagar belakang. Lili menyusul jauh di belakangku.
Mama dan Papa datang empat puluh menit kemudian. Aku segera bersiap untuk pergi dan mengucapkan selamat tinggal kepada semua keluarga Lili serta nenek kakek. Aku mencari sosok Kara yang tidak muncul ketika aku akan pergi.
Ketika Mama dan Papa masuk sebentar untuk berbicara dengan orang tua Lili, aku hanya berdiri di luar menunggu Mama dan Papa selesai. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku ke belakang. Aku menyentakkan genggamannya. Dia mengerang pelan.
“Kara?”, kataku.
Dia menaruh telunjuknya ke arah bibirku dan menarik kembali tanganku. Kali ini aku hanya menurut.
“Abel mau aku kasih sesuatu?,”
Aku tidak menjawab yang mengartikan Kara untuk melanjutkan kata-katanya.
“Ini,” dia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celana pendeknya.
Tangannya meraih tanganku untuk menerima barang itu. Untuk beberapa saat aku merasa kagum, mataku berbinar-binar melihat benda itu.
“Abel mau janji sama aku?,”
Kali ini aku menjawabnya, “Apa?,”
“Kalo besok kita udah nggak bisa ketemu lagi disini, kapan-kapan kita ketemu lagi ya?,”
“Kara… Emangnya mau kemana? Ka.. Kapan?,” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Kara menyela.
“Dua kali dari umurmu yang sekarang, ditambah dua kali selisih umurmu dan umurku,”
Aku sempat membatin, Kara pintar sekali? Kapan juga dia tahu umurku? Pasti nilai matematikanya di sekolah bagus. Lalu tanpa menghiraukannya lagi aku segera menjawab “Dua belas tahun lagi?,” pikirku cepat.
Kara hanya mengangguk. “Janji ya?,”
Aku mendengar Mama memanggil namaku. Ketika aku ingin beranjak dari tempat itu, Kara merengkuh tanganku meminta jawaban dariku. Lagi-lagi, pancaran mata jenaka yang membuatku tersenyum.
“Janji,” kataku sambil tersenyum. Lalu gantungan kunci itu ditaruh di tanganku.
Aku segera berlari ke Mama dan Papa yang sudah menungguku. Kami masuk ke dalam mobil dan melaju perlahan. Aku melihat Kara berlari terseret-seret mengejar mobilku, aku hanya tersenyum dan melambaikan tanganku kepadanya.
-End
Kau hanya ingin melihatnya tersenyum, terlebih kepadamu.
Kau hanya ingin melihatnya dalam bahagianya.
Karena kau menyukainya. Karena kau sebenarnya menginginkannya. Bahkan disetiap waktu kau akan membayangkan waktu bersamanya. Dan kau akan berharap dia datang dimimpimu malam ini. Tapi memang, yang kau inginkan hanya melihatnya dan berharap dia tersenyum kepadamu.
Hanya itu, hanya itu yang kau inginkan darinya meski hatimu masih merasa tak rela kalau dia belum bisa melupakan perasaanya kepada dia yang sudah meninggalkannya.
Lalu apa yang bisa kau lakukan?
Kau bahkan tak berani mendekatinya. Kau hanya mau melihatnya dari jauh. Mengamatinya dan ingin ikut merasakan setiap kejadian yang dirasakannya.
Tapi, kali ini yang kulakukan berbeda. Jika kau biasanya ingin menjauhi orang yang dulu pernah ada dihatinya, bahkan membencinya. Namun yang kulakukan berbeda. Aku mendekatinya, mencari sesuatu dalam dirinya yang membuatnya jatuh cinta kepadanya.
Walau terkadang itu menyakitkan, namun rasa penasaran yang takkan dapat terelakkan.
Apakah kau juga akan melakukan hal yang sama sepertiku?
Jangan artikan bahwa aku ingin untuk menusuknya dari belakang. Sesakit apapun hatiku, jika dia tak bisa untuk melihatku. Aku takkan membenci orang itu, orang yang pernah ada dihatinya atau dia sendiri.
Aku hanya akan menyalahkan diri sendiri mengapa ini semua bisa terjadi.
Atau, yang lain dari pada aku harus menyebutnya sebuah penyesalan.