...
Aku hanya tersenyum dan segera memberesi kotak P3K.
“Abel,” suara yang lembut dan penuh kasih sayang memanggil namaku.
Aku menoleh dan segera berlari ke arahnya.
“Setengah jam lagi, Papa dan Mamamu datang. Kamu harus bersiap,” kata nenek.
Lili dan Kara yang memandang ke arahku meminta penjelasan.
“Lili, Mama sama Papa mau dateng!,” teriakku ke arah mereka.
Lili dan Kara sempat berpandangaan. Kara lalu berusaha berdiri dan mengambil bolanya. Aku masuk ke rumah dan sempat melihat Kara berjalan ke pagar belakang. Lili menyusul jauh di belakangku.
Mama dan Papa datang empat puluh menit kemudian. Aku segera bersiap untuk pergi dan mengucapkan selamat tinggal kepada semua keluarga Lili serta nenek kakek. Aku mencari sosok Kara yang tidak muncul ketika aku akan pergi.
Ketika Mama dan Papa masuk sebentar untuk berbicara dengan orang tua Lili, aku hanya berdiri di luar menunggu Mama dan Papa selesai. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku ke belakang. Aku menyentakkan genggamannya. Dia mengerang pelan.
“Kara?”, kataku.
Dia menaruh telunjuknya ke arah bibirku dan menarik kembali tanganku. Kali ini aku hanya menurut.
“Abel mau aku kasih sesuatu?,”
Aku tidak menjawab yang mengartikan Kara untuk melanjutkan kata-katanya.
“Ini,” dia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celana pendeknya.
Tangannya meraih tanganku untuk menerima barang itu. Untuk beberapa saat aku merasa kagum, mataku berbinar-binar melihat benda itu.
“Abel mau janji sama aku?,”
Kali ini aku menjawabnya, “Apa?,”
“Kalo besok kita udah nggak bisa ketemu lagi disini, kapan-kapan kita ketemu lagi ya?,”
“Kara… Emangnya mau kemana? Ka.. Kapan?,” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Kara menyela.
“Dua kali dari umurmu yang sekarang, ditambah dua kali selisih umurmu dan umurku,”
Aku sempat membatin, Kara pintar sekali? Kapan juga dia tahu umurku? Pasti nilai matematikanya di sekolah bagus. Lalu tanpa menghiraukannya lagi aku segera menjawab “Dua belas tahun lagi?,” pikirku cepat.
Kara hanya mengangguk. “Janji ya?,”
Aku mendengar Mama memanggil namaku. Ketika aku ingin beranjak dari tempat itu, Kara merengkuh tanganku meminta jawaban dariku. Lagi-lagi, pancaran mata jenaka yang membuatku tersenyum.
“Janji,” kataku sambil tersenyum. Lalu gantungan kunci itu ditaruh di tanganku.
Aku segera berlari ke Mama dan Papa yang sudah menungguku. Kami masuk ke dalam mobil dan melaju perlahan. Aku melihat Kara berlari terseret-seret mengejar mobilku, aku hanya tersenyum dan melambaikan tanganku kepadanya.
-End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar