Jumat, 21 Januari 2011

Surat Untuk Bintang (Karena Kuingin)

Malam ini dingin...
Aku meringkuk ingin mencari kehangatan
Tunggu, Bintang hadirkah kau malam ini?
Aku ingin bisikkan sesuatu padamu...
Diam, hanya kita yang tahu

Dear Bintang, aku merasa sepi
Belum ada yang datang
Aku pernah kesakitan

Kau tau teman-temanku?
Aku ingin jadi seperti mereka
Mereka punya bintang, kenapa aku tidak?

Minggu, 09 Januari 2011

LIL ♥ (part-2)

...

Aku hanya tersenyum dan segera memberesi kotak P3K.

“Abel,” suara yang lembut dan penuh kasih sayang memanggil namaku.

Aku menoleh dan segera berlari ke arahnya.

“Setengah jam lagi, Papa dan Mamamu datang. Kamu harus bersiap,” kata nenek.

Lili dan Kara yang memandang ke arahku meminta penjelasan.

“Lili, Mama sama Papa mau dateng!,” teriakku ke arah mereka.

Lili dan Kara sempat berpandangaan. Kara lalu berusaha berdiri dan mengambil bolanya. Aku masuk ke rumah dan sempat melihat Kara berjalan ke pagar belakang. Lili menyusul jauh di belakangku.

Mama dan Papa datang empat puluh menit kemudian. Aku segera bersiap untuk pergi dan mengucapkan selamat tinggal kepada semua keluarga Lili serta nenek kakek. Aku mencari sosok Kara yang tidak muncul ketika aku akan pergi.

Ketika Mama dan Papa masuk sebentar untuk berbicara dengan orang tua Lili, aku hanya berdiri di luar menunggu Mama dan Papa selesai. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku ke belakang. Aku menyentakkan genggamannya. Dia mengerang pelan.

“Kara?”, kataku.

Dia menaruh telunjuknya ke arah bibirku dan menarik kembali tanganku. Kali ini aku hanya menurut.

“Abel mau aku kasih sesuatu?,”

Aku tidak menjawab yang mengartikan Kara untuk melanjutkan kata-katanya.

“Ini,” dia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celana pendeknya.

Tangannya meraih tanganku untuk menerima barang itu. Untuk beberapa saat aku merasa kagum, mataku berbinar-binar melihat benda itu.

“Abel mau janji sama aku?,”

Kali ini aku menjawabnya, “Apa?,”

“Kalo besok kita udah nggak bisa ketemu lagi disini, kapan-kapan kita ketemu lagi ya?,”

“Kara… Emangnya mau kemana? Ka.. Kapan?,” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Kara menyela.

“Dua kali dari umurmu yang sekarang, ditambah dua kali selisih umurmu dan umurku,”

Aku sempat membatin, Kara pintar sekali? Kapan juga dia tahu umurku? Pasti nilai matematikanya di sekolah bagus. Lalu tanpa menghiraukannya lagi aku segera menjawab “Dua belas tahun lagi?,” pikirku cepat.

Kara hanya mengangguk. “Janji ya?,”

Aku mendengar Mama memanggil namaku. Ketika aku ingin beranjak dari tempat itu, Kara merengkuh tanganku meminta jawaban dariku. Lagi-lagi, pancaran mata jenaka yang membuatku tersenyum.

“Janji,” kataku sambil tersenyum. Lalu gantungan kunci itu ditaruh di tanganku.

Aku segera berlari ke Mama dan Papa yang sudah menungguku. Kami masuk ke dalam mobil dan melaju perlahan. Aku melihat Kara berlari terseret-seret mengejar mobilku, aku hanya tersenyum dan melambaikan tanganku kepadanya.

-End

hte rgrtting

Kau hanya ingin melihatnya tersenyum, terlebih kepadamu.

Kau hanya ingin melihatnya dalam bahagianya.

Karena kau menyukainya. Karena kau sebenarnya menginginkannya. Bahkan disetiap waktu kau akan membayangkan waktu bersamanya. Dan kau akan berharap dia datang dimimpimu malam ini. Tapi memang, yang kau inginkan hanya melihatnya dan berharap dia tersenyum kepadamu.

Hanya itu, hanya itu yang kau inginkan darinya meski hatimu masih merasa tak rela kalau dia belum bisa melupakan perasaanya kepada dia yang sudah meninggalkannya.

Lalu apa yang bisa kau lakukan?

Kau bahkan tak berani mendekatinya. Kau hanya mau melihatnya dari jauh. Mengamatinya dan ingin ikut merasakan setiap kejadian yang dirasakannya.

Tapi, kali ini yang kulakukan berbeda. Jika kau biasanya ingin menjauhi orang yang dulu pernah ada dihatinya, bahkan membencinya. Namun yang kulakukan berbeda. Aku mendekatinya, mencari sesuatu dalam dirinya yang membuatnya jatuh cinta kepadanya.

Walau terkadang itu menyakitkan, namun rasa penasaran yang takkan dapat terelakkan.

Apakah kau juga akan melakukan hal yang sama sepertiku?

Jangan artikan bahwa aku ingin untuk menusuknya dari belakang. Sesakit apapun hatiku, jika dia tak bisa untuk melihatku. Aku takkan membenci orang itu, orang yang pernah ada dihatinya atau dia sendiri.

Aku hanya akan menyalahkan diri sendiri mengapa ini semua bisa terjadi.

Atau, yang lain dari pada aku harus menyebutnya sebuah penyesalan.

Jumat, 07 Januari 2011

PARIS ♥



Paris-Parc-des-Prince
Paris




Seine River
Paris



Love Paris,
Eiffel Tower




want to connected with me?
just follow my twitter account :
@ikhtiarinaps

search my facebook :
IKHTIARINA PUTRI

look me on my flickr :
ikhtiaputri_23

When We Are Together...


FRIENDS

are hard to find
harder to leave
and impossible to forget

Kamis, 06 Januari 2011

LIL ♥

Hari itu aku bermain di taman belakang milik keluarga Lili. Seorang anak lelaki yang umurnya kira-kira setahun lebih tua dari pada kami berlari ke arah kami, membawa sebuah mangga. Menghampiri kami dan mengajakku berkenalan. Dia tetangga dekat Lili, sekaligus teman dekat Lili. Walaupun kami baru bertemu, aku merasa cemburu padanya karena lebih sering mengajak Lili bermain daripada aku.

Ketika aku duduk sendiri, aku menjerit dan hampir menangis kerena ulat yang tiba-tiba muncul di depanku. Anak lelaki itu datang, menyingkirkan ulat itu dan berdiri di sampingku untuk merangkulku.

Tubuhku menegang, dia memegang kedua pundakku dan berkata padaku, “Udah ya jangan nangis, ulatnya udah aku buang kok. Aku buang jauuuh…,”

Aku terisak. Anak kecil itu segera menarikku ke dalam pelukannya. Kali ini kecemburuan datang pada diri Lili. Dia hanya berdiri di belakang kami dan memandang kami dengan sangat iri.

Keesokan harinya aku harus kembali ke Bogor. Aku pamit kepada seluruh keluarga Lili, juga nenek dan kakek. Ketika aku mencari sosok anak lelaki yang kucari aku tidak menemukannya. Aku sempat kecewa. Aku ingin menemuinya dulu sebelum pergi. Namun Mama dan Papa sudah memasuki mobil, terpaksa aku harus mengikutinya.

Ketika mobilku melaju perlahan meninggalkan rumah Lili, aku melihat seorang anak lelaki berlari-lari mengejar mobilku. Begitu juga Lili yang berlari mengikuti anak lelaki itu. Aku membuka kaca mobil dan sedikit mengeluarkan kepalaku.

“Abel! Kapan-kapan kesini lagi ya! Aku tunggu! Bye… Bye… Abel!,” Kara berlari dan meneriakkan kata-kata itu begitu saja.

Aku hanya melambaikan tanganku sambil tersenyum dan mengangguk-angguk. Lili yang terengah-engah berdiri di samping Kara. Aku melihat Lili menyenggol siku Kara. Wajahnya menampakkan kecemburuan yang kemarin pernah kulihat di taman belakang itu.

Selang beberapa tahun kemudian, aku kembali ke Jakarta lagi. Umurku sepuluh tahun. Tahun ini aku tidak menginap di rumah Lili, melainkan di rumah saudara Mamaku yang lain. Tapi sehari sebelum aku meninggalkan Jakarta aku minta kepada Mama dan Papa untuk diizinkan meninginap di rumah Lili yang jaraknya cukup jauh dari rumah adik Mama.

Kunjunganku kali ini sangat singkat. Ketika aku memasuki gerbang sebuah rumah, aku melihat seorang anak perempuan seumuranku berlari ke arahku dan memelukku.

“Abel!,” begitu katanya.

Berjam-jam aku berada di rumah Lili aku belum bertemu dengan Kara, anak lelaki tetangga Lili yang kutemui di halaman belakang dulu. Aku mencarinya namun dia tak juga muncul. Dua jam lagi Mama dan Papa akan menjemputku.

Aku yang sedang membaca buku di perpustakaan keluarga bersama nenek dikagetkan dengan kedatangan Lili yang mengajakku untuk bermain. Aku sempat menolaknya, karena terus dipaksa aku bahkan hampir marah kepada Lili. Tapi berkat nenek, aku akhirnya pergi bersama Lili ke halaman belakang. Lili setengah menyeretku.

Di tanganku yang lain, aku masih memegang buku yang diberikan nenek kepadaku. Buku resensi tentang Paris. Lili tetap menyeretku dengan semangat, tapi aku masih memegang wajah cemberut sejelek mungkin.

Ketika Lili berhenti di bangku belakang, aku segera berusaha berdiri dan akan menghujani Lili dengan kemarahanku. Dan saat itu juga aku melihat seorang anak lelaki membawa sebuah bola sedang duduk di bangku itu.

“Kara, ini Abelnya! Bel, masih inget sama Kara kan?,”

Seolah di setrum dengan listrik berkekuatan besar mengalir di tubuhku aku tersentak dari gendengan tangan Lili. Aku agak kaget mendengar nama itu. Namun ada suatu perasaan yang tidak bisa dijelaskan muncul dalam hatiku. Senang karena akhirnya bisa menemukan orang yang aku cari dan merasa jengkel karena paksaan Lili tadi.

Tapi masih ada rasa yang lain yang benar-benar tidak bisa dijelaskan. Seorang anak lelaki yang usianya satu tahun lebih tua dari padaku itu memandangku dengan senyum cerah. Bola yang tadi ada ditangannya dibiarkan menggelinding begitu saja ke rerumputan di halaman itu.

“Abel yang nangis waktu itu ya?,”

Aku tercengang dengan kata-kata pertamanya itu. Lili menyenggol lengan Kara, dan dia hanya tertawa.

“Lili main yuk! Sekalian ajak Abel!,” kata Kara.

Lili hanya mengangguk dan memandangku sambil tersenyum. Seperti sebuah isyarat untuk ajakan yang sedikit di paksakan. Akhirnya akupun menyerah dan ikut bermain bersama mereka.

Sepak bola dua lawan satu. Kami tertawa bersama. Sampai Kara terjatuh dan kakinya terluka. Dia hanya meringis, matanya memancarkan sinar jenaka. Lili hanya duduk di sampingnya dan malah ikut tertawa. Aku yang mendadak menjadi khawatir langsung masuk ke dalam rumah dan meminta nenek mengambilkan kotak P3K.

Aku datang dan segera membersihkan luka di lutut kaki kiri Kara. Dia masih masih meringis-ringis seperti tadi, setengah menahan perih dan setengah menahan geli. Awalnya aku ingin memarahinya karena sikapnya yang tidak bisa diam ketika aku mengobati lukanya. Namun kedua matanya mengajakku untuk tersenyum.

“Makasih ya, Bel,” katanya.


bersambung...

Rabu, 05 Januari 2011

untitled

You know dear, the first time I know you are in **, so that like every feeling that I felt before. Just like you, and dream about you. But not entirely as before, I feel so deeply. OH DEAR, you make me feel happy, but I feel desperate too. I hate myself because I feel that.
I will always hope that you and I can be a couple.
Poor me! I'm too stupid to dream about this!
Oh, I just wish I could forget you
You just my dream that can't be true
God help me to forget him ...
He's very very very very very far for me
I YES I AM STUPID!
My life will change because the ONLY think of themselves
We were in different places, different conditions, it is very different
But, in my opinion, you and I have one equation
date of birth