Hari itu aku bermain di taman belakang milik keluarga Lili. Seorang anak lelaki yang umurnya kira-kira setahun lebih tua dari pada kami berlari ke arah kami, membawa sebuah mangga. Menghampiri kami dan mengajakku berkenalan. Dia tetangga dekat Lili, sekaligus teman dekat Lili. Walaupun kami baru bertemu, aku merasa cemburu padanya karena lebih sering mengajak Lili bermain daripada aku.
Ketika aku duduk sendiri, aku menjerit dan hampir menangis kerena ulat yang tiba-tiba muncul di depanku. Anak lelaki itu datang, menyingkirkan ulat itu dan berdiri di sampingku untuk merangkulku.
Tubuhku menegang, dia memegang kedua pundakku dan berkata padaku, “Udah ya jangan nangis, ulatnya udah aku buang kok. Aku buang jauuuh…,”
Aku terisak. Anak kecil itu segera menarikku ke dalam pelukannya. Kali ini kecemburuan datang pada diri Lili. Dia hanya berdiri di belakang kami dan memandang kami dengan sangat iri.
Keesokan harinya aku harus kembali ke Bogor. Aku pamit kepada seluruh keluarga Lili, juga nenek dan kakek. Ketika aku mencari sosok anak lelaki yang kucari aku tidak menemukannya. Aku sempat kecewa. Aku ingin menemuinya dulu sebelum pergi. Namun Mama dan Papa sudah memasuki mobil, terpaksa aku harus mengikutinya.
Ketika mobilku melaju perlahan meninggalkan rumah Lili, aku melihat seorang anak lelaki berlari-lari mengejar mobilku. Begitu juga Lili yang berlari mengikuti anak lelaki itu. Aku membuka kaca mobil dan sedikit mengeluarkan kepalaku.
“Abel! Kapan-kapan kesini lagi ya! Aku tunggu! Bye… Bye… Abel!,” Kara berlari dan meneriakkan kata-kata itu begitu saja.
Aku hanya melambaikan tanganku sambil tersenyum dan mengangguk-angguk. Lili yang terengah-engah berdiri di samping Kara. Aku melihat Lili menyenggol siku Kara. Wajahnya menampakkan kecemburuan yang kemarin pernah kulihat di taman belakang itu.
Selang beberapa tahun kemudian, aku kembali ke Jakarta lagi. Umurku sepuluh tahun. Tahun ini aku tidak menginap di rumah Lili, melainkan di rumah saudara Mamaku yang lain. Tapi sehari sebelum aku meninggalkan Jakarta aku minta kepada Mama dan Papa untuk diizinkan meninginap di rumah Lili yang jaraknya cukup jauh dari rumah adik Mama.
Kunjunganku kali ini sangat singkat. Ketika aku memasuki gerbang sebuah rumah, aku melihat seorang anak perempuan seumuranku berlari ke arahku dan memelukku.
“Abel!,” begitu katanya.
Berjam-jam aku berada di rumah Lili aku belum bertemu dengan Kara, anak lelaki tetangga Lili yang kutemui di halaman belakang dulu. Aku mencarinya namun dia tak juga muncul. Dua jam lagi Mama dan Papa akan menjemputku.
Aku yang sedang membaca buku di perpustakaan keluarga bersama nenek dikagetkan dengan kedatangan Lili yang mengajakku untuk bermain. Aku sempat menolaknya, karena terus dipaksa aku bahkan hampir marah kepada Lili. Tapi berkat nenek, aku akhirnya pergi bersama Lili ke halaman belakang. Lili setengah menyeretku.
Di tanganku yang lain, aku masih memegang buku yang diberikan nenek kepadaku. Buku resensi tentang Paris. Lili tetap menyeretku dengan semangat, tapi aku masih memegang wajah cemberut sejelek mungkin.
Ketika Lili berhenti di bangku belakang, aku segera berusaha berdiri dan akan menghujani Lili dengan kemarahanku. Dan saat itu juga aku melihat seorang anak lelaki membawa sebuah bola sedang duduk di bangku itu.
“Kara, ini Abelnya! Bel, masih inget sama Kara kan?,”
Seolah di setrum dengan listrik berkekuatan besar mengalir di tubuhku aku tersentak dari gendengan tangan Lili. Aku agak kaget mendengar nama itu. Namun ada suatu perasaan yang tidak bisa dijelaskan muncul dalam hatiku. Senang karena akhirnya bisa menemukan orang yang aku cari dan merasa jengkel karena paksaan Lili tadi.
Tapi masih ada rasa yang lain yang benar-benar tidak bisa dijelaskan. Seorang anak lelaki yang usianya satu tahun lebih tua dari padaku itu memandangku dengan senyum cerah. Bola yang tadi ada ditangannya dibiarkan menggelinding begitu saja ke rerumputan di halaman itu.
“Abel yang nangis waktu itu ya?,”
Aku tercengang dengan kata-kata pertamanya itu. Lili menyenggol lengan Kara, dan dia hanya tertawa.
“Lili main yuk! Sekalian ajak Abel!,” kata Kara.
Lili hanya mengangguk dan memandangku sambil tersenyum. Seperti sebuah isyarat untuk ajakan yang sedikit di paksakan. Akhirnya akupun menyerah dan ikut bermain bersama mereka.
Sepak bola dua lawan satu. Kami tertawa bersama. Sampai Kara terjatuh dan kakinya terluka. Dia hanya meringis, matanya memancarkan sinar jenaka. Lili hanya duduk di sampingnya dan malah ikut tertawa. Aku yang mendadak menjadi khawatir langsung masuk ke dalam rumah dan meminta nenek mengambilkan kotak P3K.
Aku datang dan segera membersihkan luka di lutut kaki kiri Kara. Dia masih masih meringis-ringis seperti tadi, setengah menahan perih dan setengah menahan geli. Awalnya aku ingin memarahinya karena sikapnya yang tidak bisa diam ketika aku mengobati lukanya. Namun kedua matanya mengajakku untuk tersenyum.
“Makasih ya, Bel,” katanya.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar